Sabtu, 26 Februari 2011

PAHLAWAN PANGERAN DIPONEGORO

lukisan tempat pengasingan pangeran diponegoro

Lahir di Kraton Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785, bernama kecil Bandoro Raden Mas Ontowiryo dan setelah dewasa bergelar Kanjeng Pangeran Diponegoro merupakan putra sulung Raden Ayu Mangkorowati (putri Bupati Pacitan) selir dari Sri Sultan Hamengku Buwono III (HB III).
Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 Nopember 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama asli Raden Mas Ontowiryo.

Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir,Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengku Buwono III untuk mengangkatnya menjadi raja. Beliau menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri.

Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro.

Perang Diponegoro
Setelah kekalahannya dalam Perang Napoleon di Eropa, pemerintah Belanda yang berada dalam kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan kas mereka dengan memberlakukan berbagai pajak di wilayah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda. Selain itu, mereka juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan untuk memaksimalkan keuntungan. Pajak-pajak dan praktek monopoli tersebut amat mencekik rakyat Indonesia yang ketika itu sudah sangat menderita.

Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya, Belanda mulai berusaha menguasai kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, salah satu di antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV wafat, kemenakannya, Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun, diangkat menjadi penguasa. Akan tetapi pada prakteknya, pemerintahan kerajaan dilaksanakan oleh Patih Danuredjo, seseorang yang mudah dipengaruhi dan tunduk kepada Belanda. Belanda dianggap mengangkat seseorang yang tidak sesuai dengan pilihan/adat keraton.

Pada masa kepemimpinan HB V (1822), Pangeran Diponegoro tidak menyetujui jika sistem pemerintahan dipegang oleh Patih Danurejo bersama Reserse Belanda. Ketidaksetujuan ini memuncak menjadi peperangan pada tahun 1825, setelah Belanda membuat jalan yang menghubungkan Yogyakarta dan Magelang melewati halaman rumah Beliau (sekarang rel kereta api). Belanda yang tidak meminta izin kepada Pangeran mendapatkan perlawanan dari Pangeran dan laskarnya. Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro karena dinilai telah memberontak, pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman beliau. Terdesak, Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul.


Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat “perang sabil” yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.

Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden.
Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunaan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Sampai akhirnya Diponegoro ditangkap pada 1830.

Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri —yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal— di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur Iogistikmesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan berkencamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi. dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh kilang

Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam sebagai “senjata” tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan usaha usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan “musuh yang tak tampak” melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.
Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu dimana suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka (open warfare), maupun metoda perang gerilya (geurilia warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan. ini bukan sebuah tribal war atau perang suku. Tapi suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran; dan kegiatan telik sandi (spionase) dimana kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannyaPada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.

Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa. Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya.
Penangkapan dan pengasingan Pangeran Diponegoro

* 16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen, Purworejo. Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.
lokasi-penangkapan-p-diponegoro
28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal De Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro. Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April.
* 11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch.
* 30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado.
* 3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam.
* 1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan.
* 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di kampung Jawa Makassar.
Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh puteranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewo, yang memiliki kesaktian luar biasa. Ki Sodewo melakukan peperangan di wilayah Kulon Progo dan Bagelen.
Setidaknya Pangeran Diponegoro mempunyai 17 putra dan 5 orang putri, yang semuanya kini hidup tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Maluku.
lukisan pangeran diponegoro
BERSUMBER:
http://satria169a.wordpress.com/2008/05/22/pangeran-diponegoro/

Selasa, 22 Februari 2011

OM. PURNAMA "Cinta Yang Terpendam"

ORKES MELAYU PURNAMA – TJINTA JANG TERPENDAM
Ini adalah album dangdut klasik dari ORKES MELAYU PURNAMA!!!
Pimpinan Awab/Abdullah, mungkin ente punya kenangan di masa lagu2 ini beredar dan berikut daftar lagu2nya, enjoy!!!
silahkan klik download.
Daftar Lagu2 nya :
1. Cinta yang terpendam – Mukhsin
2. Bercerai – Anna Bachfen
3. Berjumpa – Achmad
4. Kembali padaku – Hikmah
5. Malam bahagia – Mukhsin
6. Jangan bersandiwara – Anna Bachfen dan Mukhsin
7. Kimono Jepang – Anna Bachfen
8. Janji setia – Mukhsin dan Hikmah
9. Bangun pagi – Anna Bachfen
10. Tujuan bersama – Mukhsin
11. Jamil Jamal – Nur Farida
12. Menjalankan ibadah – Mukhsin


 
BERSUMBER DARI:
http://melagam.wordpress.com/2010/08/30/orkes-melayu-purnama-tjinta-jang-terpendam/

Video dalam "Malam Cemerlang&renungan budi"OM. PURNAMA

                                                  Rhoma Irama - renungan budi


                                                  Rhoma Irama - malam cemerlang 


                                                           Rhoma Irama - kunanti

                                               Rhoma Irama - membisu                                                    
Excellent album dari AWAB PURNAMA ABDULLAH’S ORKES dengan Rhoma Irama, Elvy Sukaesih dan lain-lain, sungguh membangkitkan kenangan lalu, aku  benar-benar seperti ini…!!
Lagu2nya
  1. Datanglah – Nayo Maimunah
  2. Malam Cemerlang – Anna/O. Irama
  3. Terimalah Harapanku – Elvi Sukaesih
  4. Kemana dan Dimana – Oma Irama
  5. Insyaflah Dari Dosa – Titing Yeni
  6. Mengenal Cinta – Anna Bachfen
  7. Pacar Yang Baru – Oma Irama/Titing Yeni
  8. Nasib Dimadu – Elvi Sukaesih
  9. Ingin Mencapai – Nayo Maimunah
  10. Saling Memilih – Titing Yeni/Elvi S.
  11. Mampir Dulu – Anna Bahchfen
  12. Renungan Budi – Oma Irama
Full Download silahkan…..

 BERSUMBER DARI:
http://melagam.wordpress.com/2010/08/30/orkes-melayu-purnama-malam-tjemerlang/

Sabtu, 19 Februari 2011

LAGU RHOMA SAMPAI KE AMERIKA, BELANDA , SURINAME DAN SEANTERO DUNIA

 Bersuber dari: KABAR INDONESIA

Mengetahui kini banyak lagu-lagu ciptaannya seperti lagu "Begadang" dinyanyikan warga Belanda, Suriname dan Amerika,Rhoma Irama yang pernah membintangi film bernafaskan religi "Satria Bergitar" bersama istrinya, Ricca Rachim bangga sekali. Hal ini diketahui Rhoma dari salah satu rekannya, Navin yang menggarap websitenya.


Menurut Navin, lagu-lagu Rhoma sangat disukai warga Belanda dan Amerika. Hal itu membuat langkah si raja dangdut itu menjadi legenda dunia. Saat ini dengan adanya penjualan bisnis musik melalui Ringstone dan Wownlood. Lagu-lagu Rhoma sudah sering didengar dan dinyanyikan oleh waga Belanda Suriname dan Amerika. "Bisa jadi Beliau jadi Legenda Dunia yang abadi," kata pengamat musik irama goyang, Remmy Soetansyah saat peluncuran Website http://www.rajadangdut.com/, beberapa pekan lalu.


"Kenapa Indonesia nggak bisa menampilkan artisnya sebagai legenda. Di Inffris ada The Beatles-nya almarhum John Lenon, di Indonesia ada Rhoma Irama, gitu mas," kata Remmy begitu sangat yakin.

EUROPE



  1. The Final Countdown Download
  2. Sign Of The Times Download
  3. Carrie Download
  4. Cherokee Download
  5. Time Has Come Download
  6. Open Your Heart Download
  7. Let The Good Times Rock Download
  8. Halfway To Heaven Download
  9. Tomorrow Download
  10. Prisoners In Paradise Download

WALI FULL ALBUM


Songs List :
  1. Cari Jodoh Download
  2. Baik-Baik Sayang Download
  3. Kekasih Halal Download
  4. Puaskah Download
  5. Jodi (Jomblo Ditinggal Mati) Download
  6. Yank Download
  7. Adinda Download
  8. Suka Atau Tidak Download
  9. Jangan Tuduh Aku Download
  10. Harga Diriku Download

SONETA VOL. 4 Darah Muda



Songs List :
  1. Darah Muda Download
  2. Apa Kabar (Feat. Rita S) Download
  3. Kematian Download
  4. Biduan (Rita S) Download
  5. Cuma Kamu (Feat. Rita S) Download
  6. Awet Muda Download
  7. Dilarang Melarang Download
  8. Pria Idaman (Rita S) Download
  9. Api Dan Lautan Download

Sepuluh Film Terbaik Nya' Abbas Akup

Jagat perfilman nasional membuktikan nama Nya Abbas Akup (kadang ditulis Nyak Abbas Acup, atau Nya Abbas Akub) tak bisa dilupakan walau pada kenyataannya sineas kelahiran Malang berdarah Aceh ini sampai akhir hayatnya tak pernah mendapatkan Piala Citra sebagai sutradara terbaik. Penghargaan yang pernah diraihnya adalah Piala Antemas (1978, untuk Inem Pelayan Sexy) penghargaan untuk film terlaris, dan Piala Bing Slamet (1991, untuk Boneka dari Indiana) sebagai film komedi terbaik. Dalam hal ini Akup mirip sineas Alfred Hitchcock yang sepanjang karirnya tak pernah mendapat Academy Award.

Anak didik Usmar Ismail yang mengawali karirnya sebagai asisten sutradara dalam film Kafedo (1953) ini seperti kurang diakui juri Piala Citra lantaran prestasi tertinggi kebanyakan diraih oleh film-film berjenis drama. Walau filmnya berbobot dan sukses menghasilkan laba, sosok pendiam yang jauh dari kesan lucu ini seperti tenggelam dibandingkan nama besar Usmar Ismail, Syuman Djaya, Teguh Karya, Wim Umboh, Arifin. C. Noer, dan Asrul Sani dalam sejarah film kita.

Salim Said, pengamat politik yang juga kritikus film menjulukinya “tukang ejek nomor wahid” atas kiprahnya “menampilkan sesuatu yang baru di tengah sejumlah komedi konyol gaya sandiwara” (Pantulan Layar Putih, Pustaka Sinar Harapan, 1991). Kalau untuk “Bapak Film Nasional” kita dapat menyebut Usmar Ismail, Nya Abbas Akup, (lahir 22 April 1932 dan wafat pada 14 Februari 1991) pantas menyandang gelar “Bapak Film Komedi Indonesia”. Ia memang pantas menyandangnya. Dalam rentang waktu 19 tahun berkarya, para pelawak kondang mulai dari Bing Slamet, Benyamin. S, Jalal, Ateng dipertemukan dalam satu layar pada film-film Akup. Terakhir adalah duet Kadir-Doyok yang pertama kali dipertemukan dalam film Cintaku di Rumah Susun (1987) yang disutradarainya. Selain itu, Akup dinilai oleh banyak kritikus dan pengamat film berhasil menyegarkan aspek bertutur film komedi di tengah komedi konyol slapstick.

Selain hampir semua generasi bintang komedi kita pernah ditangani Akup dan hampir semua sub genre film komedi pernah disentuhnya. Sebutlah Drakula Mantu (1974, a.ka. Benyamin Kontra Drakula) yang dapat dianggap sebagai horor komedi. Tiga Buronan (1957) adalah black comedy. Ia juga membuat komedi aksi dengan Bing Slamet Koboi Cengeng (1974), ada parodi ketika di masa itu Indonesia sedang tergila-gila pada popularitas film koboi Django, Lone Ranger, dan Bonanza. Akup juga membuat komedi musikal pada Dunia Belum Kiamat (1971) dan Ambisi (1973). Ia juga membuat kritik sosial dalam Inem Pelayan Sexy (1976) yang dapat disebut sebagai salah satu masterpiece-nya lantaran sukses secara komersial sekaligus menghasilkan pujian dan kritik yang positif di kalangan pengamat film.

Akup sendiri sebenarnya “punya” penerus. Walau tak pernah menyatakan kepada media massa ia penerus Nya Abbas Akup yang fenomenal itu, sang penerus itu adalah Ucik Supra, sutradara Rebo dan Roby dan Badut-Badut Kota yang dapat disebut sebagai penerus film komedi kritik sosial. Sayang Ucik muncul di zaman terpuruknya perfilman nasional sehingga ia kurang produktif. Film terakhirnya, Panggung Pinggir Kali (2004), meski bukan komedi masih sedikit menyimpan greget dengan kritiknya- satu hal yang segan disentuh produser film kita.

Pembaca boleh tak bersetuju dengan daftar yang terhimpun di sini karena daftar berikut ini hanya sejumlah catatan kecil yang berhasil dihimpun penulis. Anda bahkan boleh menyusun daftar sendiri dari karya-karya almarhum maestro film komedi nasional ini. Sekedar catatan daftar di bawah ini tidak dibuat berdasarkan peringkat melainkan hanya pengumpulan film-film terbaik versi penulis yang pernah dihasilkan oleh Nya Abbas Akup.

Berikut daftarnya:

1. Heboh (1954)
Boleh dibilang inilah debut Nya Abbas Akup mencetak “hit” di dunia perfilman setelah sebelumnya ia menjadi astrada (asisten sutradara) dalam film Harimau Tjampa dan Kafedo (keduanya diproduksi 1953). Dibintangi oleh Udel, Cepot, Bambang Hermanto dan Mia Marta yang kemudian menjadi istrinya, film ini tercatat sebagai “penyelamat” perusahaan film yang dirintis usmar Ismail, PERFINI. Sukses komersial film ini menyelamatkan “lumbung padi” PERFINI yang kering gara-gara sejumlah film-film PERFINI mengalami kesulitan peredaran. Menurut catatan Salim Said dalam bukunya Pantulan Layar Putih, Heboh dibuat Akup tatkala ia masih berusia 22 tahun dan dinilai Salim Said berhasil menampilkan sesuatu yang baru di tengah film-film komedi kebanyakan yang konyol dan bergaya sandiwara sebelum perang.

Film ini mengisahkan tentang pencarian harta warisan jutawan Mutalib. Sebelum meninggal ia berpesan kepada Dullah (Bambang Hermanto) untuk mencari harta karun yang letaknya tercantum dalam peta rahasia. Dullah kemudian mencari harta karun itu dibantu oleh sahabat bapaknya Cepot dan Udel. Usahanya digagalkan pembantu ayahnya. Sampai pada suatu ketika Cepot dan Udel diculik sang pembantu. Usaha pencarian harta warisan ini banyak diselingi adegan kocak. Namun ketika harta itu betul-betul ditemukan Dullah hanya menemukan secarik kertas yang isinya menyuruh ia untuk bekerja.

Film ini memang belum menampilkan kritik yang begitu tajam seperti karya-karya Akup yang kita kenal sesudahnya. Tapi di situ mulai terlihat bagaimana Akup memotret kelakuan orang yang hanya percaya pada takhayul berupa kuburan keramat. Dan orang yang disindir itu merembet juga pada anak orang kaya macam Dullah.

2. Tiga Buronan (1957)
Dengan menggunakan bintang pelawak tenar Bing Slamet sebagai tokoh penjahat Mat Codet, film ini menyabet penghargaan FFI 1960 untuk kategori pemeran pembantu wanita terbaik, Mpok Ani. Menurut Salim Said, film ini merupakan titik perkembangan Akup dalam menggarap film komedi setelah film debutnya Heboh (1954) menuai pujian. Lewat filmnya ini, menurut Said, Akup berhasil lepas dari “bayang-bayang” gurunya, Usmar Ismail.

Film ini mengisahkan kaburnya kepala bandit Mat Codet dari penjara yang sangat ditakuti di sebuah desa. Banyak adegan lucu terjadi tatkala Mat Codet menunjukkan kegarangannya sebagai kepala bandit. Namun usaha gerombolan Mat Codet yang merongrong kehidupan Pak Hadji ayah Ginah, pacar Maman (Bambang Irawan) selalu dihalangi oleh Maman sampai pada suatu ketika Mat Codet harus berhadapan dengan pasukan Brimob yang dipanggil oleh Ginah. Mat Codet tak berkutik dan akhirnya menyerah.

Oleh Salim Said, film ini dianggap seperti menampilkan sosok Menteri Luar Negeri Subandrio yang di masa jayanya bisa berbuat apa saja, tetapi “rontok” di hadapan Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa). Begitu juga Mat Codet yang rontok di hadapan Brimob setelah usahanya selalu digagalkan Maman. Seperti sudah disebutkan di awal tulisan, lewat film ini Akup menampilkan black comedy dan komedi aksi pertama di Indonesia.

3. Ambisi (1973)
Ini merupakan “big hit” awal Akup yang membawanya menjadi sutradara komedi papan atas. Digarap ceritanya oleh Nya Abbas Akup bersama (alm.) Mus Mualim yang tak lain adalah suami Titiek Puspa, film ini mengisahkan penyiar radio swasta “Undur-Undur” Bing Slamet yang tidak akur dengan istrinya. Dalam pekerjaannya sebagai penyiar ia menemui keasyikan tersendiri, salah satunya adalah ia bisa bergaul dengan penggemarnya, Anna Mathovani yang bercita-cita jadi penyanyi tenar. Cita-cita Anna pun akhirnya tercapai berkat jasa Bing.

Film ini selain dibintangi dua maestro komedi, Bing Slamet dan Benyamin.S, dan juga menampilkan video klip penyanyi dan musisi beken masa itu seperti Koes Plus, Trio Bimbo dan God Bless. Tak heran film ini layak disebut sebagai film komedi musik pertama, yang selain kocak juga menjadi tambatan para penyanyi beken menampilkan hit-hit yang ditampilkan dalam bentuk yang merupakan cikal bakal video klip pertama di Indonesia.

Film ini meraih penghargaan Citra FFI 1974 untuk tata artistik, Piala Akademi Sinematografi LPKJ FFI 1974 untuk fotografi dan Piala Djamaluddin Malik FFI 1974 sebagai film komedi terbaik. Tak ada kritik sosial dalam film ini selain film hanya banyolan yang ditampilkan habis-habisan oleh kedua bintangnya, Bing Slamet dan Benyamin.S.

4. Drakula Mantu (1974)
Dibintangi Benyamin.S, Tan Tjeng Bok (sebagai Drakula), Pong Hartjatmo (putra Drakula) dan memperkenalkan bintang cantik Rice Margaretha Gerung yang barusan tenar sebagai Miss Photogenic Jakarta 1974. Beredar pula dengan judul lain Benyamin Kontra Drakula, film ini oleh majalah film F edisi Februari-Maret 2006 dinobatkan sebagai sub genre film perpaduan antara horor dan komedi pertama di dunia. Mungkin karena film ini tidak diedarkan secara internasional sehingga luput dari pengamatan, akhirnya sejarah mencatat film Close Encounters of The Spooky Kind (1980) yang dibintangi Sammo Hung sebagai film horor-komedi pertama di dunia.

Akan tetapi sebenarnya sebelum Drakula Mantu, ada film lain yang sebenarnya lebih pantas sebagai pelopor genre horor komedi yaitu Mayat Cemburu (1973) yang disutradarai Awaluddin dan diperankan oleh para pelawak Srimulat (Johnny Gudel, Russ Pentil, Sumiati, dkk). Tapi karena film ini tidak jadi diedarkan di Indonesia lantaran pimpinan Srimulat, Teguh bersengketa dengan pengedarnya, Herman Samadikun, maka jadilah Drakula Mantu karya Nya Abbas Akup menjadi pelopor genre horor komedi. Selain dikenal sebagai pelopor genre horor komedi, film ini juga mengandung unsur parodi dengan menampilkan Count Dracula tokoh setan tenar dari Eropa yang datang ke Indonesia mengawinkan anaknya dengan setan dari Indonesia.

Mengisahkan pasangan muda yang membeli rumah tua di pinggiran kota, film ini menonjolkan permasalahan penggusuran tanah yang kerap terjadi kala itu lewat balutan komedi. Rumah tua yang hendak dihuni ternyata didiami oleh setan yang mengganggu siapa saja yang masuk ke dalamnya sehingga rumah tersebut jadi menyeramkan. Konon setan-setan yang menghuni rumah tua itu adalah penduduk yang tergusur.

Nya Abbas sengaja memakai simbol makhluk halus sebagai potret warga yang tergusur sehingga kritiknya tersamar dan lolos sensor dari pemerintah Orde Baru yang kala itu sangat ketat dan tak segan-segan melarang peredaran film yang terasa “menyindir”.

5. Bing Slamet Koboi Cengeng (1974)
Di film ini lagi-lagi Nya Abbas Akup mencetak hit luar biasa, jauh sebelum Inem Pelayan Sexy dibuat. Kalau Drakula Mantu layak disebut sebagai pelopor genre horor komedi, film ini layak disebut perintis film parodi pertama di Indonesia. Dengan memparodikan film-film koboi Amerika dan tentu saja film-film “spaghetti western” dari Italia, film ini beredar takala era keemasan film-film koboi sedang memuncak di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

Dibintangi oleh pelawak yang tergabung dalam Kwartet Jaya (Bing Slamet, Eddy Sud, Ateng, dan Iskak) film yang ceritanya digarap Akup bekerjasama dengan Kwartet Jaya ini berhasil menggondol penghargaan khusus Citra 1975 untuk film humor terbaik dan Piala GPBSI (Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia) 1975 untuk film terlaris 1974-1975.

Mengisahkan jago tembak Eddy Sud yang menyelamatkan Vivi Sumanti, anak dari Bing Slamet dari komplotan bandit. Bing kemudian kerjasama dengan Eddy Sud untuk menyelamatkan Vivi yang diculik Sheriff Ateng. Di akhir cerita terbongkar bahwa otak penculikan itu tak lain adalah ide Eddy Sud. Di akhir film Eddy Sud duel tembak dengan Bing Slamet.

Selain dibintangi pelawak Kwartet Jaya yang memang di masa itu sedang jaya, film ini juga dibintangi rocker Ucok AKA Harahap, dan pelawak Us Us. Selain film ini adalah “big hit” Akup, film ini adalah film terakhir komedian Bing Slamet yang meninggal beberapa bulan sesudah film ini dibuat.

6. Inem Pelayan Sexy (1976)
Dibintangi oleh pelawak almarhum Djalal sebagai Tuan Bronto, Titiek Puspa dan Aedy Moward, film yang merupakan debut akting bintang cantik Doris Callebaut sebagai Inem ini boleh dibilang sebagai masterpiece dan “big hit”nya Akup. Walau sebelumnya ia sudah terkenal lewat film-film komedi, film yang dibuat sekuelnya sampai tiga jilid ini makin melambungkan pamor Nya Abbas Akup sebagai “tukang ejek nomor wahid”.

Film ini menyabet Piala Antemas FFI 1978 sebagai film terlaris tahun 1977-1978. Bahkan karena larisnya nama Inem pun dinobatkan sebagai nama perusahaan film “PT Inem Film” bikinan Nya Abbas sendiri yang diantaranya memproduksi film garapan Nya Abbas juga yaitu Rojali dan Juleha (1979) yang dibintangi Nanu dari grup lawak beken Warkop Prambors, Lydia Kandouw, Titiek Puspa, dan trio pencetus Sersan Prambors di kala masih muda lantaran baru menyandang gelar sebagai juara lawak dari sebuah lomba (Pepeng, Krisna dan Nana Krip).

Mengisahkan seorang babu yang menyandang predikat janda bernama Inem, ia disukai oleh bos majikannya, Tuan Bronto. Di sini kritik yang muncul terasa sumir, yaitu menonjolkan walau seorang babu punya “hak” hidup sebagai manusia sehingga senantiasa ia tidak boleh terus dipinggirkan. Kelas sosial yang berbeda antara majikan dan babu ditonjolkan lewat humor segar yang menyentil. Selain disukai bos majikannya, film ini juga mengisahkan hubungan asmara singkat antara anak majikan Inem dengan anak Inem. Pertanyaan yang mengusik tapi menyentil muncul pula dalam film ini misalnya “Sudikah kamu berhubungan dengan anak seorang babu?”, sehingga terasa Nya Abbas sedang menampilkan hubungan kelas sosial berbeda yang baru kala itu berani ditampilkan dalam film. Selain dialog yang terasa fenomenal kala itu, Nya Abbas juga menampilkan tuan-tuan dan nyonya-nyonya kaya para majikan babu yang norak. Paling tidak kepiawaian Nya Abbas menampilkan kelas sosial berbeda ini menambah bobotnya sebagai “tukang ejek nomor wahid”.

Sukses Inem tak hanya dibuat secara simultan sekuelnya oleh Akup pada tahun 1977 (dua film di tahun yang sama, Inem 2 dan Inem 3) melainkan juga dibuat versi sinetronnya pada tahun 1998 dengan judul Inem Pelayan Sexy dan Inem Sang Pelayan.

7. Semua karena Ginah (1985)
Dibintangi aktris cantik mantan perenang nasional Zoraya Perucha, yang kemudian menjadi istri ketiga sutradara kondang Syuman Djaya, film ini tak hanya menampilkan kritik dan sindiran semata. Film ini juga menampilkan dampak dari sebuah modernisasi tatkala jamu tradisional diproduksi massal bak Coca Cola.

Film ini mengisahkan penjaja jamu gendong yang cantik bernama Ginah. Ginah terkenal dan menjadi primadona di sebuah kompleks perumahan yang menjadi sasaran penjualan jamunya. Hampir semua lelaki mulai dari penghuni rumah sampai para pedagang yang menjadi langganan jamunya jatuh cinta padanya. Nasib Ginah berubah ketika ada sebuah pemotretan seorang model dan wajah Ginah yang cantik tak sengaja terpotret oleh seorang juru kamera. Ginah kemudian dicari dan akhirnya dijadikan model iklan produk jamu terbaru rasa strawberry. Kondisi berubah. Ginah menjadi tenar dan makin sulit ditemui para pengagumnya yang dulu menjadi pelanggan jamu Ginah. Tak hanya itu, jamu gendong yang dijual para penjual jamu gendong pun tergerus oleh jamu gendong cap Ginah lantaran bahan baku jamu tradisonal diborong habis oleh produsen jamu. Ginah sendiri pun merasa resah dengan kehidupan barunya. Puncaknya ia ingin kembali ke kehidupannya dulu yang terkesan apa adanya jauh dari intrik. Apalagi hatinya makin luluh tatkala mengunjungi pabrik jamunya yang dulu bangkrut lantaran tergerus jamu cap Ginah rasa strawberry.

Film ini juga semakin menajamkan kritik sosial ala Akup. Selain kritik sosial, Akup pun dengan berani menyindir sebuah keadaan yang tergerus modernisasi cenderung mematikan kehidupan sebelumnya. Ya, dampaknya memang kejam. Tapi hal itulah yang seolah ingin dikatakan Akup bahwa hal demikian suka tidak suka mau tidak mau harus diterima.

Meski film ini sebenarnya baik dari segi tema maupun penggarapan, tapi menurut saya film ini juga mencatat beberapa kekurangan walaupun kritik dan sindiran Akup terasa makin tajam dibandingkan film sebelumnya. Pertama, banyak pengulangan yang dilakukan dari film Inem ke Ginah dengan menampilkan babu-babu di sebuah kompleks perumahan. Adegan lain yang juga merupakan pengulangan dari Inem adalah adegan Ginah yang sempat berhenti menjadi penjual jamu ketika ia diterima bekerja menjadi seorang babu. Meski lucu dan masih konteks dengan cerita rasanya sayang juga sineas sebesar Akup melakukan pengulangan yang seharusnya tidak dilakukannya.

Kedua, Akup kurang berhasil meyakinkan penonton yang teliti, sehingga Ginah tiba-tiba begitu saja ingin kembali ke kehidupan lamanya. Persoalan Ginah yang tidak mau dikawini bosnya dalam film ini ditampilkan kurang meyakinkan. Meskipun demikian di film ini lagi-lagi Akup diganjar penghargaan Piala Antemas FFI 1986 sebagai film terlaris dengan mengumpulkan sebanyak 234.279 penonton menurut data Perfin yang dikutip dari buku Katalog Film Indonesia 1926-2005 susunan mantan wartawan Kompas JB. Kristanto.

8. Cintaku di Rumah Susun (1987)
Film ini dibintangi sederet bintang beken seperti Eva Arnaz, Deddy Mizwar, Asmuni, Pak Tile, Kadir dan Doyok. Mengisahkan problematika keseharian warga rumah susun sederhana. Yang menarik film ini menampilkan pelbagai karakter karikatural yang kadang saling sirik atau mencurigai sesama penghuni rumah susun.

Film ini juga termasuk “big hit”-nya Nya Abbas selain Inem dan menyabet penghargaan sebagai film dengan skenario dan film terpuji Festival Film Bandung 1988. Penghargaan lain yang diterima adalah FFAP 1988 dan (sayangnya hanya) unggulan Citra 1987 untuk cerita, skenario, fotografi, dan suara.

Film yang pertama kali menampilkan dua pelawak beken, Kadir dan Doyok, dalam satu film ini juga menyabet penghargaan Citra 1987 untuk tata artistik terbaik. Kemenangan ini diraih lantaran Nya Abbas begitu detilnya menampilkan set rumah susun sederhana sehingga penonton benar-benar terbawa dalam suasana keseharian rumah susun dengan kompleks. Sukses film ini juga mengilhami produser sinetron sekitar tahun 2005 untuk dibuat versi sinetronnya.

9. Kipas-Kipas Cari Angin (1989)
Film ini meski bukan termasuk “big hit”-nya Nya Abbas Akup, rasanya tetap layak juga disebut sebagai salah satu film terbaiknya. Seperti Cintaku di Rumah Susun, film ini juga dibintangi sederet bintang-bintang beken seperti Mathias Muchus, Nurul Arifin, Eeng Saptahadi, Didi Petet, bintang cantik asal Malaysia, Raja Emma, dan tak ketinggalan pelawak Pak Tile.

Film ini mengisahkan kehidupan keluarga sederhana yang “njomplang” habis. Pasangan Raja Emma sebagai istri dan Eeng Saptahadi sebagai suami betul-betul tak seimbang. Eeng berperan menjadi suami pemalas yang hobinya naik motor dan gonta-ganti cewek sedangkan Raja Emma berperan sebagai istri yang kerja keras banting tulang menghidupi keluarga. Suatu ketika lewat kabar dari pegawai hotel yang diperankan Pak Tile, ada harapan kepada Raja Emma untuk memperbaiki nasib lewat pencarian tenaga kerja (TKW). Tapi sebelum pendaftaran TKW dimulai panitia yang diperankan Mathias Muchus dan Didi Petet menyelenggarakan kontes wanita cantik terlebih dahulu lewat lomba yang dinamai ”Miss Golanpas” (Golongan Pas-Pasan). Para pesertanya notabene perempuan dari “golongan pas-pasan” seperti Raja Emma. Pemenangnya baru boleh ikut jadi TKW. Lomba dimulai. Saling ejek dan adu mulut antar pesaing, salah satunya dibintangi Nurul Arifin, mewarnai film berdurasi 104 menit ini.

Film ini tetap menampilkan sindiran sosial yang tajam ala Akup. Settingnya memperlihatkan sebuah perkampungan kumuh yang bersebelahan dengan hotel mewah. Adegan pembukanya saja sudah memperlihatkan bola yang dimainkan anak-anak kampung terbang melayang ke dareah elit yang terletak di sebelah perkampungan kumuh dikembalikan lagi kepada anak-anak yang memainkannya dalam keadaan kempes.

Film ini nyatanya juga cukup laris dan menuai penghargaan untuk aktor terpuji (Eeng Saptahadi) dan aktris terpuji (Nurul Arifin) pada Festival Film Bandung 1990. Berbekal sederet penghargaan yang disabetnya di samping ceritanya yang juga menarik, film ini menurut saya layak disebut sebagai “big hit” Akup.

10. Boneka dari Indiana (1990)
Film ini adalah film pamungkas dan big hit terakhir Akup di layar lebar. Ia mulai diganjar sakit-sakitan seperti jantung dan bahkan sempat digerogoti stroke sampai ia benar-benar meninggal di RS Harapan Kita pada 14 Februari 1991 (buku Kritik Sosial dalam Film Komedi, FFTV-IKJ Press, 2006).

Film ini meraih penghargaan Piala Citra pada FFI 1991 untuk pemeran wanita terbaik Lydia Kandouw dan Piala Bing Slamet FFI 1991 untuk film komedi terbaik. Film ini bercerita tentang Egi (Didi Petet) seorang suami yang selalu dikuasai istrinya Cece (Lydia Kandouw) dan mertuanya Yudho (Ami Priyono). Suatu ketika dalam sebuah proyek besar Egi diperintah untuk mendekati Eya (Merriam Bellina) wanita simpanan seorang pejabat besar. Usaha ini dilakukan untuk mengejar sebuah proyek besar. Ini membuat Cece cemburu. Lama-lama Egi berontak tatkala mengetahui usahanya selama ini hanya untuk memperalat dirinya demi sebuah proyek yang mengabaikan lingkungan.

Di film ini kritik Akup makin tajam saja. Ia tak lagi hanya menampilkan potret orang-orang miskin yang sedang berjuang seperti film-film sebelumnya, melainkan menampilkan geliat kehidupan orang yang sudah mapan tapi hidupnya dikekang oleh istri dan mertuanya. Sebuah kenyataan hidup yang berhasil dipotret Akup dengan baik.

* * *

Berikut adalah Filmografi lengkap Nya Abbas Akup, diambil dari Harun Suwardi, tuling ulang Veven Sp. Wardhana, 2006, Kritik Sosial dalam Film Komedi; Studi Khusus Tujuh Film Nya Abbas Akup, FFTV-IKJ PRESS

1950-an

- Kafedo (1953, asisten sutradara)
- Harimau Tjampa (1953, asisten sutradara)
- Heboh (1954, sutradara, cerita, skenario)
- Tiga Dara (1956, pemain)
- Djuara 1960 (1956, sutradara, cerita, skenario)
- Tiga Buronan (1957, sutradara, cerita, skenario)
- Djendral Kantjil (1958, sutradara, skenario)

1960-an

- Asmara dan Wanita (1961, cerita, skenario)
- Penjeberangan (1963, pemimpin produksi, co-skenario)
- Langkah-langkah Dipersimpangan (1965, sutradara, skenario)
- Tikungan Maut (1966, sutradara, skenario)
- Nenny (1968, sutradara, skenario)
- Mat Dower (1969, sutradara, cerita, skenario)

1970-an

- Dunia Belum Kiamat (1971, sutradara, skenario)
- Catatan Seorang Gadis (1972, sutradara, cerita, skenario)
- Ambisi (1973, sutradara, cerita, skenario)
- Bing Slamet Koboi Cengeng (1974, sutradara, cerita, skenario)
- Ateng Minta Kawin (1974, sutradara, cerita, skenario)
- Drakula Mantu (1974, sutradara, cerita, skenario)
- Tiga Cewek Badung (1974, sutradara, cerita, skenario)
- Cintaku di Kampus Biru (1976, co-skenario)
- Inem Pelayan Sexy (1976, sutradara, cerita, skenario)
- Karminem (1977, sutradara, cerita, skenario)
- Bang Kojak (1977, cerita)
- Petualang Cilik (1977, skenario)
- Inem Pelayan Sexy II (1977, sutradara, cerita, skenario)
- Inem Pelayan Sexy III (1977, sutradara, cerita, skenario)
- Kisah Cinta Rojali dan Juleha (1979, sutradara, cerita, skenario)

1980-an

- Gadis (1980, sutradara, skenario)
- Koboi Sutra Ungu (1981, sutradara, skenario)
- Apanya Dong (1983, sutradara, cerita, skenario)
- Semua karena Ginah (1985, sutradara, cerita, skenario)
- Cintaku di Rumah Susun (1987, sutradara, cerita, skenario)
- Kipas-Kipas Cari Angin (1989, sutradara, cerita, skenario)

1990-an

- Boneka dari Indiana (1990, sutradara, cerita, skenario)
- Inem Pelayan Sexy (serial televisi, 26 episode, 1998, cerita)
- Inem Sang Pelayan (serial televisi, 13 episode, 1998, cerita)
BERSUMBER:
http://old.rumahfilm.org/artikel/artikel_10nyakabbasakup.htm

Rabu, 02 Februari 2011

Rhoma Irama dari BLOG Bumi Prabu

Album Soneta Group :
  1. Soneta Vol-1 1973 Begadang
  2. Soneta Vol-2 1974 Penasaran
  3. Soneta Vol-3 1975 Rupiah
  4. Soneta Vol-4 1975 Darah Muda
  5. Soneta Vol-5 1976 Musik
  6. Soneta Vol-6 1977 135 juta
  7. Soneta Vol-7 1977 Santai
  8. Soneta Vol-8 1978 Hak Azazi
  9. Soneta Vol-9 1979 Begadang 2
  10. Soneta Vol-10 1980 Sahabat
  11. Soneta Vol-11 1980 Indonesia
  12. Soneta Vol-12 1981 Renungan Dalam Nada
  13. Soneta Vol-13 1983 Emansipasi Wanita
  14. Soneta Vol-14 1989 Judi
  15. Soneta Vol-15 1989 Gali Lobang Tutup Lobang
  16. Soneta Vol-16 Bujangan
Album Sound Track Film :
  1. STF 1976 Penasaran
  2. STF 1977 Darah Muda
  3. STF 1977 Gitar Tua, Gitar Tua dri Film
  4. STF 1978 Begadang
  5. STF 1978 Berkelana 1
  6. STF 1978 Berkelana 2
  7. STF 1978 Raja Dangdut
  8. STF 1979 Camelia
  9. STF 1979 Cinta Segitiga
  10. STF 1980 Melodi Cinta
  11. STF 1980 Perjuangan dan doa
  12. STF 1981 Badai diawal Bahagia
  13. STF 1982 Pengorbanan
  14. STF 1984 Cinta Kembar
  15. STF 1984 Pengabdian
  16. STF 1984 Satria Bergitar
  17. STF 1985 Kemilau cinta di langit jingga
  18. STF 1986 Menggapai Matahari 1
  19. STF 1986 Menggapai Matahari 2
  20. STF 1987 Nada-nada rindu
  21. STF 1988 Bunga Desa
  22. STF 1990 Jaka Swara
  23. STF 1991 Nada dan dakwah
  24. STF 1993 Tabir Biru
Album Lain :
  1. 12 Lagu Terpilih – Surat Terakhir
  2. The Very Best of Oma Irama
  3. Kisah dalam Lagu – Terhempas cinta duka
  4. Rhoma Irama – OG Al Fatah
  5. Rhoma Irama – OG Al Badr – 5 Milyar
  6. Lomba cipta lagu dangdut I 1979
  7. Lomba cipta lagu dangdut II 1985
  8. Album Kabar dan dosa
  9. Album Renungkan
  10. Album Pemilu
  11. Album Duet dengan Lata Mangeshkar 1 : Purnama
  12. Album Duet dengan Lata Mangeshkar 2 : Sifana
  13. Album Duet dengan Lata Mangeshkar 3 : Gulali
  14. Album Cinta : Puja
  15. Album Jana-Jana
  16. Album Janda Kembang
  17. 20 lagu terlaris Rhoma Irama & Elvy Sukaesih. Vol. 1
  18. 20 lagu terlaris Rhoma Irama & Elvy Sukaesih. Vol. 2
  19. 20 lagu terlaris Rhoma Irama & Elvy Sukaesih. Vol. 3
  20. Album Tercapai
  21. Duet Oma Irama + Titim Fatimah : Kawih Sunda
  22. Album Joget
  23. Album Oma Irama
  24. Live di Kuala Lumpur : 1992
  25. Rhoma Irama dalam “Musik Populer Indonesia” seri 2
  26. Ridho Rhoma & Sonet 2 Band – Menunggu
  27. Rhoma Irama – Album “Hampir Saja”
  28. 14 Lagu Karya Maestro Dangdut
  29. Lebaran
  30. Sholawat
  31. Langitpun Berduka
  32. Mandul (+ Elvie Sukaesih)
  33. Haram 90
  34. Pop Indonesia – Remaja Bulan
  35. Debby Oma Irma – Pop Anak Vol. 1
Video :
  1. Film Rhoma : Penasaran
  2. Film Rhoma : Darah Muda
  3. Film Rhoma : Gitar Tua
  4. Film Rhoma : Begadang
  5. Film Rhoma : Kelana I
  6. Film Rhoma : Kelana II
  7. Film Rhoma : Raja Dangdut
  8. Film Rhoma : Camelia
  9. Film Rhoma : Cinta Segitiga
  10. Film Rhoma : Melodi Cinta
  11. Film Rhoma : Perjuangan dan Doa
  12. Film Rhoma : Badai di Awal Bahagia
  13. Film Rhoma : Pengorbanan
  14. Film Rhoma : Cinta Kembar
  15. Film Rhoma : Pengabdian
  16. Film Rhoma : Satria Bergitar
  17. Film Rhoma : Kemilau Cinta di Langit Jingga
  18. Film Rhoma : Menggapai Matahari I
  19. Film Rhoma : Menggapai Matahari II
  20. Film Rhoma : Nada-nada Rindu
  21. Film Rhoma : Bunga Desa
  22. Film Rhoma : Jaka Swara
  23. Film Rhoma : Nada & Dakwah
  24. Film Rhoma : Tabir Biru
  25. Impact with Peter F Gontha : Rhoma Irama
  26. Lagu Cinta Rhoma Irama – Rica Rachim
  27. Lagu Cinta Rhoma Irama – Yati Octvia
Bersumber :
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=32750196489663106
thank you very much BUMIPRABU