Senin, 24 Januari 2011

Tangis Rhoma Irama pada 40 Tahun Soneta (1)

’Dari Rumah Inilah, Lirik Soneta Dipelajari Di Seluruh Dunia’’.
Air mata Rhoma Irama tertumpah, ketika menghadiri acara pengajian 40 Tahun Soneta yang digelar Soneta Fans Club Indonesia (SFCI) di kediaman Debby Rhoma di Kebonbaru,Tebet Jakarta Selatan, Minggu 2 Januari 2011 lalu. Sang Raja Dangdut itu menangis sesenggukan di panggung sederhana yang ditata panitia. Ratusan penggemar dari berbagai daerah hadir tak kuasa ikut sedih dan sebagian ikut menangis. Karena memang di rumah yang sekarang ditempati Debby adalah rumah Rhoma Irama bersama Ibu Veronica almarhum, saat Soneta didirikan, 11 Desember 1970.
Rumah itu terletak di Kampung Kebonbaru, jalan H-1. Jalan masuknya dari Jalan Raya Tebet juga yang tidak terlalu lebar. Bila dua mobil bersalipan, harus hati-hati. Di depan rumah nampak sungai Ciliwung yang tinggi tanggulnya mencapai 2,5 meter. Khusus menyambut kehadiran Rhoma Irama, hari itu, jalan ditutup sejak 100 meter. Puluhan spanduk dan umbul-umbul buatan Soneta Fans Club Surabaya menghiasi sepanjang jalan masuk dari jalan parkir mobil menuju lokasi.
Di halaman rumah sampai jalan depan rumah, didirikan tenda dan panggung sederhana dengan sound yang sederhana pula. Tak ada kursi, ratusan fans Soneta dari berbagai daerah, cukup lesehan di karpet hijau. Fans yang datang antara lain dari Surabaya, Malang, Boyolali, Brebes, Tanjungpinang, Medan, Pemalang, Cirebon, Bekasi, Bogor, Depok dan Jakarta sendiri. Saking banyaknya, sampai tumpah ruah di jalan dan bibir sungai Ciliwung itu. Wanita duduk di halaman rumah, jamaah lelaki berada di atas jalan. Mereka ingin mendengarkan ceramah Rhoma yang hari itu special membahas ‘asbabun nuzul’ Soneta Group.
Sebelum Rhoma hadir, sudah hadir terlebih dahulu, keyboardis dan pendiri Soneta Haji Riswan, istri dan anaknya Ricky (gitaris Sonet2). Kemudian Haji Nasir (mandolin dan pendiri Soneta), serta personil Soneta lainnya. Dua orang personil posisi awal Soneta juga hadir, Wemphy (rhytem) dan Kadir (gendang). Sedangkan pengurus SFCI yang hadir antara lain, Endang (Ketua SFCI Jakarta), Artin Swara (Ketua panitia), Surya Aka Syahnagra (SFCI Surabaya), Mohammad Noer (Humas Sonetamania Jakarta), Tata steinberger (Fotografer Sonia), Andi Steinberger (fotografer SFCI Surabaya), Putra Kelana (Boyolali), dan sebagainya yang tak dapat disebut satu persatu.
Yang unik tentu saja Teguh Irama fans dari Jakarta ini, menghiasi sepeda motor bebeknya dengan foto2 Soneta. Agar tak kena hujan, ratusan foto itu dilaminating. Seluruh aksesoris motor ditempel aksesori Soneta dan Rhoma Irama.  Banyak juga yang unjuk lagu. Indra Imran dari Tanjung Pinang juga ikut menyanyi, selain Alwalid Steinberger juga membawakan lagu Gala-gala. Sedangkan di jamaah putri, selain seluruh Soneta Femina, hadir pula Bunga Cempaka, Mbak Ima serta SFCI putri lainnya. Semua membaur. Sedangkan keluarga Rhoma Irama nampak Debby Rhoma, Vicky Rhoma, Dedy irama, adik Rhoma Irama yang pernah membintangi Cinta Kembar. Suasana benarr benar seperti reuni dan pertemuan para penggemar Soneta. Untuk pertama kalinya digelar.
Mengapa Rhoma menangis? Berikut petikan ceramahnya:

Sejak saya masuk ke tempat ini, saya sudah merasa haru yang dalam. Apalagi melihat spanduk-spanduk yang begitu banyak, (maksudnya 20 poster cover album Soneta yang dibuat SFCI Surabaya), sudah terasa sekali. Saya berfikir, Soneta Fans Club Indonesia begitu peduli terhadap Soneta. Ini sangat mengharukan sekali. (Kemudian Rhoma menangis lagi). Kemudian saya berada di depan sebuah rumah. Di sinilah rumah perjuangan Soneta. Di rumah inilah kita berbaiat. Saya, Riswan, Nasir, Kadir, Wempy, Hadi, Herman, Popong almarhum dan Ayub almarhum. Kita berbait di depan musalla di bawah pohon mangga. Apakah masih ada musala itu? Masih ada pohon Mangga? (dijawab hadirin, musala masih ada tetapi pohon mangganya sudah tidak ada lagi-pen).
Inilah deklarasi Soneta sebagai The Voice of Moslem, deklarasi Soneta membawa suara Islam. Itu terjadi 37 tahun yang lalu, tepatnya 13 Oktober 1973. Jadi saat itu, 3 tahun setelah berdirinya Soneta. Soneta sendiri berdiri 11 Desember 1970 di Gang Seno, Tebet Barat, Jakarta Selatan. Dalam 3 tahun itu,  Soneta belum ada personil tetap. Karena hanya mengisi rekaman suara, untuk recording di Metropolitan Record.
Dari rumah yang bersejarah inilah, sekarang alhamdulillah, Soneta telah terpancar bukan hanya di seluruh Indonesia. Rhoma Irama tidak saja diklaim sebagai The King of Dangdut Indonesia, Rhoma Irama juga telah diklaim sebagai The South Asia Superstar. Superstar Asia Tenggara. Dari tempat inilah lahir lirik-lirik Soneta yang kini dipelajari puluhan universitas di seluruh dunia. (Allahu Akbar....! teriakan pengunjung).
Sebelum baiat itu, saya bilang kepada teman-teman, hari ini saya akan mendirikan musik yang akan melawan musik rock. Saat itu, memang sangat deras musik rock melanda dunia termasuk Indonesia. Kalau enggak, orkes melayu ini akan hancur. Teman2 ada yang bilang ‘’Ji, lo kalo mau berbuat sesuatu, itu aja Purnama ente kalahin. Sebab saat itu Purnama memang grup yang paling top. Mustahil mengalahkan rock, menyamakan saja belum tentu bisa’’. Maka saya lanjutkan, sekarang, siapa yang setuju the sound of moeslem, jabat tangan saya. Akhirnya, Wempy jabat tangan saya, kemudian Herman, Kadir, Riswan, Ayub, Hadi, semua 9 orang, saling menjabat tangan saya, kemudian saya berucap ‘’Alfaaa tihah’’. Kami ber 9 berikrar.
Sehingga semula ada rencana, nama grup ini ‘’Haji 9’’. Karena dideklarasikan oleh 9 orang haji. Saya katakan, mulai saat ini, tidak ada lagi maksiat di Soneta. Mulai saat ini kita harus betul betul menegakkan perintah Allah dan menjauhkan larangan Allah. Saat ini saya deklarasikan ‘’The Sound of Moeslim’’ kita akan menjadi terompet Islam.
Usai deklarasi itu, bukanlah hal yang mudah. Terjadi kontroversi yang luar biasa. Dimana-mana saat itu, kelompok Islam memandang curiga kepada Soneta. ‘’Emang siapa Anda kok mengklaim the voice of Moeslem yang mengatasnamakan musik Islam, sementara saat itu antara musik dan agama terdapat jurang pemisah yang teramat sangat dalam. Apalagi dengan orkes melayu, yang botabene banyak kemaksiatan disana. Kok tiba tiba Rhoma Irama mendeklarikan Soneta. Sebagai musik dangdut yang penuh kemaksiatan, kok menyatakan ‘’the voice of moeslim’’. Bisa dibayangkan, kontroversi pada saat itu. Dulu yang namanya musik, musik apa saja, pasti menjalani 3 hal. Pertama, musisinya minum. Kalo gak mabuk, gak seniman. Kedua, yang namanya pemusik, gak ada yang sembahyang. Dohor lewat, asar lewat, magrib lewat, isyak lewat apalagi subuh, baru pulang itu. Gak ada musisi salat, kalau ada musisi salat? Itu ajaib! Ketiga, para musisi pergaulannya bebas. Antara lelaki dan perempuan, gak ada batas. (Sekarang ini ada cipika cipiki, sudah seakan-akan sudah sah, kalau seniman nggak cipika cipiki gak seniman kuno itu. Dulu memang cipika cipiki gak ada, itu kan baru 10 tahun terakhir, yang merupakan infiltrasi budaya barat masuk ke Indonsia).
Dengan sikap Soneta yang seperti itu, makanya saya di kalangan seniman disebut sebagai ‘’mahluk aneh’’. Soneta ini mahluk aneh, tidak ikut ikutan budaya barat. Karena Soneta bertekad untuk membawa setiap lagu yang akan kita harus mampu membawakan ahlaqul Islam. Makanya setiap lagu yang mau saya lahirkan rekaman, saya kumpulkan Soneta. Teman-teman, ini kita akan membawakan lagu ‘’Haram’’, ‘’Judi’’, ‘’Keramat’’, sebelum didendangkan kepada khalayak, kita wajib melaksanakan ini pada diri kita terlebih dahulu. Kalau tidak, Allah akan murka kepada kita. Kalau kita hanya pandai menyanyi, menyampaikan kepada orang lain, sedangkan kita sendiri melanggar ucapannya.
Memang kondisi berkesenian di Indonesia saat itu benar-benar rusak. Maka, saya setiap sujud dalam salat, saya resah dengan berkesenian di Indonesia ini. Kenapa main musik harus bermabuk mabukan? Kenapa main musik kok harus gak salat? Kenapa main musik selalu terjerumus dalam pergaulan bebas? Maka, di setiap salat saya berdoa kepada Allah. ‘’Ya Allah seandainya musik ini mememperlebar jalanku ke neraka, maka mohon hentikan. Namun seandainya musik ini bisa membawa keridloanmu Ya Allah, tolong bimbing aku, bagaimana cara mencapai ridlomu melalui musik ini’’.
Akhir-akhir ini, juga banyak kiai dan ulama yang menyarankan kepada saya, ‘Bang Haji, Anda sekarang sudah menjadi muballigh, bahkan antum ini ulama, sekarang saatnya Anda menghentikan main musik. Saya bilang kepada beliau kiai; mohon izin kiai, musik inilah lini saya. Musik ini pos saya. Kalau kiai bertugas di pesantren, di masjid, mohon diizinkan kami di musik. Kenapa? Karena manusia memiliki rasa berkesenian. Ini kodrat dari Allah yang tak bisa diubah. Indonesia adalah mayoritas Islam. Seandainuya umat Islam absen dalam mengisi aktifitas musik, tidak mengisi ranah budaya, maka yang namanya musik dan kenudayaan Indonesia, pasti akan diisi oleh orang-orang kafir. Sedangkan yang mendengarkan orang-orang Islam. Kalau kita mengharamkan musik, maka musik akan dimanfaatkan orang lain. Dengan pemikiran seperti ini, saya minta izin kepada kiai untuk tetap berjuang melalui musik. (surya aka syahnagra-bersambung)

Rhoma menyeka air mata setelah menangis beberapa saat jelang ceramah 40th Soneta. (Foto; aka)

Menutup matanya yang penuh air mata. (foto:andi steinberger)


Fans Soneta dari berbagai derah di depan spanduk dan poster buatan SFCI Surabaya di lokasi rumah Debby Rhoma. (foto:andi steinberger)
Markas Soneta, saat Rhoma dan 8 orang lainnya membaiat diri mendirikan Soneta, Jl H No 1 Kebonbaru Jakarta Selatan.(foto: andi steinberger)
PENULIS: Surya-Aka Syahnagra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar